Kecerdasan buatan kini melekat dalam keseharian anak. Simak tips bagi orang tua dalam mendampingi anak menghadapi dampak negatif teknologi AI agar terhindar dari risiko misinformasi di masa depan.
Digitnesia.com, Jakarta – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari anak-anak melalui berbagai fitur di media sosial. Teknologi ini menyusup ke dalam aktivitas digital mereka, baik secara sadar maupun tidak.
Founder YouAI, Roni Satria, menjelaskan bahwa integrasi AI dalam berbagai platform digital telah membuat generasi muda terpapar teknologi ini secara intensif. Tanpa disadari, AI kini sudah melekat erat dalam keseharian mereka.
Penggunaan gawai yang tinggi tak jarang memicu konflik antara orang tua dan anak. Psikolog anak dan keluarga, Sani Budiantini, menyoroti bahwa upaya pembatasan durasi layar yang terlalu ketat justru sering kali menimbulkan ketegangan relasi.
Sani menyebut generasi Alpha memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Larangan yang terlalu keras kerap memicu respons sebaliknya dan justru membuat anak semakin penasaran.
Kondisi tersebut menuntut peran aktif orang tua untuk memitigasi dampak negatif AI, seperti risiko misinformasi. Pendampingan yang tepat sangat diperlukan agar pemanfaatan teknologi ini tidak menjadi masalah di masa depan.
Upaya antisipasi paparan AI bagi anak akan dibahas tuntas dalam podcast Edutalk. Diskusi ini akan menghadirkan Roni Satria dan Sani Budiantini pada Selasa (11/8) pukul 19.00 WIB.