BMKG melaporkan lebih dari 70 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan potensi kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi akan terus menguat hingga awal tahun 2027.
Digitnesia.com, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan lebih dari 70 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Data ini berdasarkan pemutakhiran dasarian III Juli 2026.
Sebanyak 516 Zona Musim (ZOM) atau 73,8 persen wilayah Indonesia saat ini berada dalam fase kemarau. Sementara itu, hanya 10 persen wilayah yang masih mengalami musim hujan.
Penyebaran musim kemarau mencakup area luas dari Aceh, Sumatra, Jawa, hingga wilayah timur Indonesia seperti Papua. Wilayah tersebut meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, serta sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus. Puncak ini diprediksi mencakup 48,84 persen wilayah daratan Indonesia.
Sebagian besar wilayah Tanah Air diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari kondisi normal. Sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen luas daratan Indonesia diprediksi menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang.
Curah hujan tinggi baru akan muncul secara bertahap pada Oktober hingga November mendatang. Saat ini, sejumlah daerah telah mencatatkan hari tanpa hujan dengan kategori sangat panjang.
Rekor hari tanpa hujan terpanjang terjadi di Pos Hujan Katerban, Purworejo, Jawa Tengah, mencapai 80 hari. Kondisi ini diperparah dengan fenomena El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal kuartal pertama 2027.
BMKG memperingatkan bahwa intensitas El Nino berpotensi mencapai kategori kuat. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi dampak kekeringan yang meluas.