Berbeda dari kekhawatiran selama ini, ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan justru memicu lonjakan permintaan tenaga kerja fisik seperti teknisi listrik dan pekerja konstruksi di berbagai proyek pusat data berskala besar.
Digitnesia.com, Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya dikhawatirkan mengancam lapangan kerja kini justru memicu lonjakan permintaan tenaga kerja fisik. Pembangunan infrastruktur penopang teknologi ini membutuhkan ribuan teknisi listrik, tukang ledeng, pekerja baja, hingga teknisi pendingin.
Skala kebutuhan tersebut terlihat dari dua proyek raksasa di Amerika Serikat pada Juli 2026. Departemen Energi AS mengumumkan investasi swasta senilai 100 miliar dolar AS untuk mengubah fasilitas pemerintah di Paducah, Kentucky, menjadi kompleks pusat data AI.
Proyek di Kentucky ini diproyeksikan menyerap 8.000 pekerja konstruksi dan 600 staf permanen. Fasilitas tersebut akan dilengkapi pembangkit listrik tenaga gas dua gigawatt, penyimpanan baterai 2,6 gigawatt, serta kampus AI berkapasitas 1,8 gigawatt.
Sementara itu, kolaborasi Meta dan BlackRock telah memulai pembangunan pusat data senilai 14 miliar dolar AS di El Paso, Texas. Proyek berkapasitas satu gigawatt ini akan menyerap 4.000 pekerja konstruksi saat puncak pembangunan dan 300 staf operasional.
Fenomena ini mengonfirmasi prediksi CEO Nvidia, Jensen Huang, bahwa gelombang lapangan kerja bernilai tinggi berikutnya akan lahir di lokasi konstruksi dan ruang mesin pusat data. Ia menyebut ekspansi AI sebagai pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia.
Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Januari 2026, Huang menekankan bahwa AI bukan sekadar perangkat lunak, melainkan susunan industri yang kompleks. Menurutnya, energi, cip, dan infrastruktur adalah penggerak utama penciptaan lapangan kerja.
“Energi menciptakan pekerjaan. Industri cip menciptakan pekerjaan. Lapisan infrastruktur menciptakan pekerjaan,” ujar Huang saat itu. Ia menegaskan pesannya dengan singkat: “Jobs, jobs, jobs.”
Permintaan tenaga kerja terampil ini muncul karena fasilitas pusat data AI memerlukan pemasangan jaringan listrik tegangan tinggi dan sistem pendingin cair yang rumit. Selain itu, instalasi pipa, generator, penyimpanan energi, serta serat optik menuntut keahlian teknis yang sangat presisi.
Semakin canggih cip AI, semakin besar pula daya listrik dan panas yang harus dikelola. Kondisi tersebut menempatkan teknisi listrik, teknisi HVAC, dan pekerja konstruksi sebagai elemen vital dalam rantai industri teknologi global.