Era ponsel murah berkinerja rendah berakhir pada 2026, kini produsen menyematkan teknologi canggih seperti AI, chipset efisien, serta pembaruan sistem operasi jangka panjang demi meningkatkan performa dan durabilitas perangkat.
Digitnesia.com, Jakarta – Era ponsel pintar murah dengan performa terbatas resmi berakhir pada 2026. Kini, produsen mulai menyematkan teknologi kelas menengah dan flagship ke perangkat terjangkau guna memperpanjang masa pakai ponsel.
Transformasi ini menjawab keluhan pengguna terkait perangkat murah yang cepat melambat atau rusak setelah dua tahun pemakaian. Peningkatan performa didorong oleh efisiensi chipset, dukungan sistem operasi lebih lama, memori cepat, dan manajemen baterai optimal.
Dari sisi dapur pacu, chipset entry-level kini diproduksi dengan fabrikasi lebih kecil. Teknologi ini membuat konsumsi daya lebih efisien, suhu perangkat stabil, dan performa aplikasi jauh lebih bertenaga.
Produsen seperti Qualcomm dan MediaTek turut mengintegrasikan fitur kecerdasan buatan (AI) pada chipset murah. AI tersebut secara otomatis meningkatkan kualitas kamera, mengatur penghematan daya, hingga mengoptimalkan kinerja aplikasi.
Kebijakan pembaruan perangkat lunak kini menjadi standar baru yang krusial. Banyak merek menawarkan hingga empat kali update Android serta pembaruan keamanan selama lima hingga enam tahun.
Dukungan jangka panjang ini memastikan perangkat tetap aman dan kompatibel dengan aplikasi terbaru. Hal tersebut dinilai sebagai kunci utama dalam memperpanjang usia pakai ponsel pintar.
Di sektor penyimpanan, penggunaan memori internal UFS menggantikan teknologi eMMC yang lamban. Kecepatan baca dan tulis yang tinggi membuat proses buka-tutup aplikasi serta pemindahan file menjadi jauh lebih responsif.
Kapasitas RAM juga ditingkatkan secara signifikan. Konfigurasi 6 GB hingga 8 GB kini lumrah ditemukan pada ponsel harga terjangkau untuk menunjang kelancaran multitasking harian.