Jakarta – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I 2026 dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih mencapai dua digit.
Perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 1 miliar dalam enam bulan pertama tahun 2026, yang mencerminkan kenaikan 9% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya yakni US$ 919 juta.
Kenaikan pendapatan tersebut didorong oleh peningkatan volume penjualan batu bara sebesar 5% menjadi 12,3 juta ton, serta penguatan harga jual rata-rata sebesar 4% menjadi US$ 81 per ton.
Manajemen ITMG menjelaskan bahwa tren positif harga jual ini merupakan dampak langsung dari dinamika pasar global.
“Kenaikan harga jual rata-rata tersebut sejalan dengan menguatnya harga acuan batu bara,” ungkap manajemen ITMG dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (11/8).
Pencapaian ini berdampak signifikan terhadap profitabilitas perseroan, di mana laba bersih tercatat naik 17% menjadi US$ 110 juta dibandingkan US$ 94 juta pada tahun lalu.
Margin laba bersih perusahaan juga mengalami perbaikan dari 10% menjadi 11% seiring dengan efisiensi operasional yang terjaga.
Meskipun pendapatan meningkat, volume produksi batu bara perseroan justru mengalami kontraksi sebesar 5% menjadi 9,9 juta ton dibandingkan semester I 2025.
Namun, perusahaan menunjukkan pemulihan produksi pada kuartal II 2026 yang tumbuh 13% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Tantangan lain muncul dari sisi beban operasional, di mana beban pokok pendapatan naik 7% menjadi US$ 744 juta akibat tingginya biaya penambangan, nisbah kupas, dan harga bahan bakar.
Selain itu, arus kas dari aktivitas operasi mengalami tekanan berat dengan penurunan tajam sebesar 78% menjadi US$ 62 juta.
Manajemen menyebutkan bahwa penurunan kas operasi dipicu oleh rendahnya penerimaan pengembalian pajak serta pembayaran kepada pemasok yang lebih tinggi.
“Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya penerimaan pengembalian pajak sebesar US$ 169 juta dan pembayaran kepada pemasok yang lebih tinggi sejalan dengan meningkatnya beban pokok pendapatan,” tulis manajemen dikutip dari laporan keuangan perseroan, Selasa (11/8).
Secara geografis, Cina dan Jepang tetap mendominasi pasar ekspor ITMG dengan kontribusi pendapatan masing-masing US$ 271 juta dan US$ 269 juta.
Pasar Filipina dan Thailand mencatatkan pertumbuhan signifikan, sementara pasar domestik dan India justru mengalami penurunan pendapatan.
Dari sisi neraca, kondisi keuangan perseroan tetap stabil dengan total aset mencapai US$ 2,417 miliar dan total ekuitas US$ 1,910 miliar.
Rasio utang terhadap ekuitas juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio pinjaman terhadap ekuitas yang turun menjadi 0,01 kali dari sebelumnya 0,03 kali.
Ke depan, ITMG menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi bisnis ke sektor energi terbarukan dan mineral strategis.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG yang semakin menjadi fokus utama perusahaan.