Ponsel lawas kini menjadi barang bernilai investasi tinggi bagi para kolektor, dengan harga jual mencapai miliaran rupiah berkat faktor kelangkaan, kondisi fisik, serta nilai sejarah dari perangkat tersebut.
Digitnesia.com, Jakarta – Sejumlah ponsel lawas kini memiliki nilai jual fantastis di pasar kolektor internasional. Perangkat yang dahulu merupakan alat komunikasi biasa tersebut kini dihargai jauh melampaui ponsel pintar terbaru karena faktor kelangkaan, nilai sejarah, dan kondisi fisik.
Fenomena ini dipicu oleh tingginya minat kolektor terhadap perangkat dalam kondisi baru, lengkap dengan kotak asli, atau masih tersegel. Harga yang terbentuk di pasar lelang bahkan kerap menembus angka fantastis untuk unit-unit langka.
iPhone generasi pertama rilisan 2007 menjadi primadona dalam daftar ini. Perangkat bersejarah yang mengubah industri teknologi tersebut sempat terjual lebih dari US$190.000 atau sekitar Rp3 miliar untuk unit 8 GB yang masih tersegel.
Nokia 8800 Arte juga menjadi incaran kolektor yang menggemari era feature phone premium. Ponsel berbahan logam dengan mekanisme slider ini dihargai mulai dari US$800 hingga lebih dari US$2.000, bergantung pada kondisi serta kelengkapan aksesori bawaannya.
Sementara itu, Motorola DynaTAC 8000X menempati posisi khusus dalam sejarah teknologi. Sebagai salah satu telepon genggam komersial pertama di dunia era 1980-an, perangkat ini dipandang sebagai simbol revolusi komunikasi meski memiliki bobot hampir 800 gram.
Nilai jual ponsel klasik tersebut diprediksi akan terus bertahan bahkan meningkat seiring waktu. Statusnya sebagai artefak sejarah teknologi menjadikan perangkat ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen investasi bagi para pegiat barang antik.