Spam judi online naik 128% selama Piala Dunia 2026, bot canggih dan akun palsu digunakan untuk menyebar promosi secara masif di media sosial dengan pemantauan unggahan viral real-time.
Jakarta – Spam judi online di media sosial meningkat drastis sejak Piala Dunia 2026 bergulir. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat, serangan bot promosi judi online melonjak 128 persen pada periode Januari hingga Juni 2026.
Pakar IT dan digital forensik, Ruby Alamsyah, menjelaskan bahwa maraknya spam ini bukan dilakukan secara manual. Pelaku menggunakan sistem bot komersial yang canggih.
Bot tersebut dilengkapi fitur pemantau tren unggahan secara real-time. Hal ini memungkinkan promosi judi online menjangkau audiens luas dalam waktu singkat.
“Bot ini punya tools monitoring yang bisa mendeteksi postingan yang sedang trending atau viral secara real time,” ujar Ruby.
Ia menambahkan, bot kemudian mengarahkan jaringan akun palsu untuk membanjiri kolom komentar unggahan viral.
Di balik sistem ini, terdapat jaringan akun palsu yang dikelola terpusat. Perangkat pengoperasian banyak akun media sosial sekaligus kini marak diperjualbelikan secara komersial.
Operator bot hanya perlu memberikan perintah. Seluruh akun dalam jaringan tersebut akan otomatis memposting sesuai instruksi.
“Pola kerjanya simpel,” kata Ruby.
Sistem memantau postingan viral, lalu mengirim jaringan akun palsu untuk menyebar promosi judi online di kolom komentar.
Piala Dunia memang menjadi momentum yang diincar pelaku judi online. Mereka berharap promosi dapat menarik lebih banyak orang untuk mencoba.
“Event seperti Piala Dunia memang menjadi momentum yang mereka incar,” jelas Ruby.
Bantuan bot komersial membuat penyebaran spam menjadi jauh lebih masif.
Menyiasati penyebaran spam ini, Ruby menganalisis setiap sistem pasti memiliki pola yang dapat dipelajari. Langkah pertama adalah memperoleh dan menganalisis bot komersial yang digunakan pelaku.
Melalui proses forensik digital, cara kerja, metode, dan teknik otomatisasi bot dapat dipelajari. Pengetahuan ini menjadi dasar penyusunan mekanisme deteksi dan pemblokiran.
“Kalau kita bisa mendapatkan bot tersebut lalu mempelajarinya secara forensik, kita bisa menemukan pattern yang kemudian digunakan untuk membangun sistem pencegahan,” pungkas Ruby.