Antisipasi dampak kekeringan ekstrem hingga tahun 2027, BRIN siapkan serangkaian inovasi teknologi mulai dari modifikasi cuaca, pengolahan air bersih, hingga pemanfaatan potensi sungai bawah tanah bagi ketahanan nasional.
Digitnesia.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan serangkaian teknologi mitigasi dampak fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga 2027. Inovasi tersebut mencakup optimalisasi modifikasi cuaca, desalinasi air laut, hingga sistem pengolahan air siap minum.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan pengembangan teknologi ini merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah antisipasi kekeringan ekstrem. Meski durasi El Nino relatif stabil, ia menyoroti intensitas panas dan kekeringan yang kali ini jauh lebih signifikan.
“Presiden meminta BRIN menyempurnakan teknologi modifikasi cuaca dengan berbagai pendekatan,” ujar Arif di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8).
Penyempurnaan teknis tersebut meliputi penggunaan natrium klorida (NaCl) berukuran 2-5 mikron, teknologi flare, hingga pemanfaatan pesawat nirawak (drone). Langkah ini bertujuan meningkatkan efektivitas operasi di sejumlah wilayah terdampak.
Guna menjaga ketahanan air nasional, BRIN juga mengoptimalkan teknologi desalinasi yang kini telah terpasang di 40 wilayah pesisir. Selain itu, terdapat teknologi Arsinum yang mampu mengolah air banjir, air limbah, maupun air payau menjadi air layak konsumsi.
Teknologi Arsinum telah diuji coba langsung oleh Presiden Prabowo bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono. Arif menegaskan, efektivitas teknologi ini telah teruji di berbagai lokasi bencana.
BRIN kini turut memfokuskan riset pada potensi sungai bawah tanah sebagai sumber air baku baru. Tim peneliti tengah mengembangkan teknologi pemetaan aliran sekaligus metode pemurnian air dari bakteri Escherichia coli.
Langkah konkret lainnya mencakup pembangunan living laboratory di Kebumen, Jawa Tengah, untuk meneliti pengolahan air bawah tanah agar lebih higienis. Kajian serupa akan menyasar wilayah Gunungkidul dan Lombok yang memiliki potensi sungai bawah tanah cukup besar.
Sebelumnya, BMKG memperingatkan bahwa fenomena El Nino telah mencapai kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi iklim ini diperkirakan memicu kemarau panjang hingga awal 2027 mendatang.