Tingkatkan Kesiapsiagaan Global, Perubahan Iklim Mendorong Penyebaran Nyamuk Berbahaya Dunia

Perubahan iklim dan mobilitas global memicu penyebaran nyamuk pembawa penyakit ke wilayah baru, meningkatkan ancaman kesehatan dunia serta lonjakan kasus malaria, demam berdarah, hingga chikungunya secara signifikan di berbagai negara.

Nyamuk Makin Menguasai Dunia, Apa Pemicunya?

Digitnesia.com, Jakarta – Nyamuk pembawa penyakit kini semakin masif memperluas wilayah penyebarannya ke berbagai belahan dunia. Perubahan iklim, perdagangan global, serta tingginya mobilitas manusia memicu ancaman penyakit ini tidak lagi terbatas di negara tropis.

Spesies berbahaya kini menjangkau wilayah yang sebelumnya aman di Eropa, Asia, Amerika, hingga Australia. Bahkan, periode Juni 2025 hingga April 2026 mencatat spesies Aedes albopictus telah merambah Portugal, Prancis, dan Yunani.

Penyebaran ini berdampak langsung pada lonjakan kasus penyakit global. Pada 2024, kasus malaria diperkirakan menembus angka 282 juta dengan tingkat kematian mencapai 610 ribu jiwa.

Virus chikungunya juga mewabah di lebih dari 100 negara selama dua dekade terakhir. Penyakit yang memicu demam dan nyeri sendi ini sempat menimbulkan wabah di China, Italia, hingga Prancis.

Kasus demam berdarah dengue turut mencatatkan rekor tertinggi. Tercatat lebih dari 14 juta kasus dengan 12 ribu kematian di seluruh dunia.

Sebuah analisis ilmiah mengungkap laju migrasi nyamuk ke wilayah baru meningkat tajam sejak tahun 2000. Dari 45 jenis nyamuk yang terpantau bermigrasi, 12 di antaranya berhasil menetap dan membentuk populasi baru.

“Itu benar-benar menunjukkan peningkatan yang sangat kuat dalam jumlah introduksi baru,” ujar ahli biogeografi University of Lisbon, César Capinha.

Capinha menjelaskan, jaringan perdagangan global memfasilitasi migrasi nyamuk melalui ban bekas, tanaman hidup, hingga moda transportasi. Spesies Aedes aegypti kini tercatat telah ditemukan di sekitar 150 negara.

Faktor perubahan iklim juga memainkan peran krusial dalam memperluas habitat nyamuk. Suhu hangat yang berlangsung lebih lama memberikan ruang bagi nyamuk untuk berkembang biak dengan lebih cepat.

Ahli geografi kesehatan Oswaldo Cruz Foundation, Christovam Barcellos, menyoroti peningkatan suhu berkepanjangan yang memperlebar jendela penularan penyakit. Hal ini menjadi kekhawatiran utama bagi kesehatan masyarakat global.

Studi terkait memperingatkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, miliaran orang akan berisiko terpapar penyakit yang ditularkan melalui serangga ini. Risiko tersebut menuntut kesiapsiagaan lintas negara dalam menghadapi ancaman kesehatan global.

Rekomendasi