Cegah Risiko Migrasi BPA, Ahli Batasi Penggunaan Galon Polikarbonat Ulang

Penggunaan galon plastik polikarbonat secara terus-menerus berisiko memicu degradasi material yang melepaskan senyawa BPA berbahaya, sehingga ahli menyarankan pembatasan masa pakai maksimal satu tahun atau 40 kali pengisian ulang.

Degradasi Plastik Polikarbonat Jadi Perhatian Ilmuwan

Digitnesia.com, Jakarta – Penggunaan galon air minum berbahan plastik polikarbonat secara terus-menerus dalam jangka panjang berisiko memicu degradasi material yang berbahaya bagi kesehatan. Proses ini memungkinkan senyawa kimia Bisphenol A (BPA) bermigrasi ke dalam air minum.

Selama ini, polikarbonat menjadi pilihan utama bahan baku galon karena sifatnya yang kuat dan tahan benturan. Namun, para ilmuwan menegaskan material ini tidak dirancang untuk digunakan tanpa batas waktu.

Dalam ilmu material, degradasi terjadi akibat perubahan struktur kimia karena pengaruh lingkungan. Faktor pemicunya meliputi paparan sinar ultraviolet, suhu tinggi, gesekan saat pencucian, serta usia pemakaian.

Ahli polimer Universitas Indonesia, Prof. Mochamad Chalid, menjelaskan bahwa degradasi terjadi saat rantai polimer melemah dan putus. Kondisi ini mengubah sifat fisik material sekaligus meningkatkan peluang terlepasnya senyawa kimia.

“Kalau ada rantai, pasti ada mata rantai. Ibarat kalung ada mata rantai kalungnya, nah, itu bisa terputus,” ujar Chalid, Kamis (6/8/2026).

Chalid menyarankan pembatasan masa pakai galon guna ulang maksimal 40 kali pengisian atau setara satu tahun pemakaian. Setelah melampaui batas tersebut, risiko degradasi material akan meningkat signifikan.

Senyawa BPA menjadi perhatian utama karena berfungsi sebagai bahan baku pembuatan polikarbonat. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Junaidi Khotib, menuturkan bahwa pelepasan BPA ke air dipercepat oleh paparan panas dan sinar matahari.

“BPA dikenal sebagai senyawa yang mengganggu fungsi normal sistem endokrin tubuh. Efeknya tidak langsung terasa, namun berbahaya dalam jangka panjang,” kata Junaidi.

Peneliti keamanan pangan Universitas Katolik Soegijapranata, Inneke Hantoro, turut menyoroti proses pembersihan galon. Menurutnya, penyikatan berulang justru mempercepat keausan pada permukaan plastik.

“Semakin lama dipakai ulang, yang artinya berulang kali dibersihkan dan disikat, risiko larutnya BPA bisa lebih tinggi,” ucap Inneke.

Rekomendasi