Kehadiran Kimi K3 asal China mengguncang industri AI global dengan model open weight yang menantang dominasi model AS, sekaligus memicu perdebatan sengit terkait tuduhan plagiarisme teknologi dan efektivitas performanya.
Digitnesia.com, Jakarta – Industri kecerdasan buatan (AI) global kembali diguncang kehadiran model inovatif asal China, Kimi K3. Model besutan startup Moonshot AI ini mencuri perhatian karena diklaim mampu menyaingi performa model canggih asal Amerika Serikat, seperti GPT milik OpenAI dan Claude dari Anthropic.
Tingginya antusiasme publik membuat Moonshot kewalahan menangani lonjakan beban kerja. Perusahaan bahkan terpaksa menghentikan pendaftaran langganan baru dua hari setelah peluncuran akibat keterbatasan kapasitas komputasi.
Kehadiran Kimi K3 semakin memanaskan persaingan teknologi antara AS dan China. Di tengah ketatnya pembatasan ekspor teknologi oleh Washington, muncul tuduhan dari pejabat AS dan Anthropic yang menduga Moonshot menggunakan teknik distillation dari model Amerika.
Teknik tersebut memungkinkan sebuah model AI dilatih menggunakan keluaran dari model lain. Menanggapi hal tersebut, pihak Moonshot secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam penggunaan teknik tersebut.
Berbeda dengan model AS yang bersifat tertutup, Kimi K3 dirilis dengan pendekatan open weight. Pengembang dapat mengunduh, memodifikasi, dan menjalankan model ini secara mandiri melalui server mereka sendiri secara gratis.
Analis senior Morningstar, Chelsey Tam, menilai model terbuka semakin diminati karena menjawab kebutuhan organisasi akan kendali data. “Berbagai organisasi menghargai kemampuan untuk menjalankan model secara mandiri agar tetap memegang kendali atas bobot model dan data sensitif,” ujar Tam.
Moonshot AI didirikan tiga tahun lalu oleh Yang Zhilin, seorang insinyur perangkat lunak lulusan Tsinghua University dan Carnegie Mellon University. Perusahaan ini mulai menarik perhatian sejak merilis model Kimi pertama pada 2023 dan berhasil meraih pendanaan hampir US$300 juta.
Munculnya K3 dinilai pakar sebagai bukti bahwa kemajuan AI di China kini bukan lagi anomali. Pendiri buletin Hello China Tech, Poe Zhao, menyatakan bahwa fenomena ini menunjukkan adanya pola kemajuan yang konsisten.
“DeepSeek adalah kejutan, namun K3 menjadi bukti bahwa kemajuan China semakin dapat diulang,” ungkap Zhao. Analis Counterpoint Research, Wei Sun, memperkirakan kesenjangan kemampuan antara model China dan AS kini menyempit hingga rentang tiga sampai enam bulan.
Meski demikian, sejumlah analis masih bersikap skeptis terkait performa nyata Kimi K3. Malik Ahmed Khan dari Morningstar mengingatkan bahwa nilai tinggi dalam benchmark belum tentu mencerminkan kinerja model dalam penggunaan praktis di dunia nyata.