Mitigasi Krisis Semikonduktor, Samsung Perluas Kontrak Pasokan Jangka Panjang Global

Samsung proyeksikan kelangkaan chip berlanjut hingga 2028 akibat lonjakan permintaan AI, meski sukses mencatatkan lonjakan laba signifikan yang justru menekan kinerja divisi perangkat seluler perusahaan dalam jangka panjang.

Samsung Perkirakan Kelangkaan Chip Berlanjut Hingga 2028

Digitnesia.com, Jakarta – Samsung Electronics memproyeksikan kelangkaan pasokan cip semikonduktor global akan memburuk dan terus berlanjut hingga 2028. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan permintaan yang tajam dari pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Guna mengamankan posisi, produsen cip memori terbesar dunia ini telah meneken perjanjian pasokan jangka panjang dengan lima perusahaan pusat data global. Samsung kini juga tengah merampungkan kesepakatan serupa dengan lima mitra strategis lainnya.

Wakil Presiden Eksekutif Bisnis Memori Samsung, Jaejune Kim, mengungkapkan bahwa pelanggan kini lebih memilih kontrak pasokan multi-tahun. Samsung menargetkan kontrak jangka panjang tersebut mampu mencakup dua pertiga dari total produksi memori perusahaan.

Kontrak ini memiliki durasi minimal lima tahun, yang dilengkapi dengan skema pembayaran di muka serta batas harga minimum. Strategi tersebut dirancang untuk memitigasi risiko investasi modal sekaligus meredam dampak fluktuasi siklus industri cip.

Dari sisi kinerja keuangan, unit semikonduktor Samsung mencatatkan laba operasional sebesar 89,2 triliun won atau sekitar US$61,7 miliar pada kuartal II. Angka tersebut melonjak drastis hingga lebih dari 250 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, laba operasional perusahaan mencapai 89,5 triliun won dengan kenaikan pendapatan sebesar 130 persen menjadi 171,5 triliun won. Per akhir Juni, posisi kas bersih perusahaan tercatat menyentuh angka 167 triliun won.

Kendati demikian, kenaikan harga cip justru menekan divisi perangkat seluler Samsung. Divisi ini mencatat kerugian sebesar 700 miliar won, yang menandai kerugian kuartalan pertama mereka.

Analis eToro, Josh Gilbert, menilai situasi ini menciptakan dilema bagi perusahaan. “Cip yang memperkaya satu sisi Samsung kini justru merugikan sisi lainnya,” ujar Gilbert.

Di sisi lain, investor mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan margin laba tinggi di tengah ketatnya persaingan dari China. Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-hwan, mencatat adanya keraguan pasar mengenai ketahanan margin keuntungan tersebut dalam jangka panjang.

Sentimen ini turut memengaruhi pergerakan saham Samsung yang sempat menguat 8,4 persen sebelum akhirnya ditutup melemah 0,7 persen. Di waktu yang sama, saham rival utamanya, SK Hynix, juga mencatatkan penurunan sebesar 5,6 persen.

Rekomendasi