Lebih dari 200 pakar dunia mendesak pemerintah segera mengatur perkembangan AI guna memitigasi risiko disrupsi ekonomi masif, ancaman PHK, serta potensi ketidaksiapan global menghadapi transformasi teknologi dalam satu dekade mendatang.
Digitnesia.com, Jakarta – Lebih dari 200 ekonom, peneliti, dan praktisi industri global, termasuk 16 peraih Hadiah Nobel, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera merespons pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Mereka memperingatkan bahwa teknologi ini berpotensi merombak tatanan ekonomi dunia secara radikal dalam satu dekade ke depan.
Peringatan tersebut disampaikan melalui surat terbuka bertajuk We Must Act Now. Para ahli menilai akselerasi AI akan memicu transformasi ekonomi yang jauh lebih masif dibandingkan Revolusi Industri, namun berlangsung dalam durasi yang lebih singkat.
Risiko utama yang disorot adalah ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Kendati demikian, surat tersebut juga mengakui adanya peluang besar bagi peningkatan standar hidup masyarakat global.
Para pakar menegaskan bahwa pengelolaan manfaat dan risiko AI hanya dapat dilakukan melalui langkah antisipasi dari pemerintah maupun sektor industri. Mereka menekankan urgensi pembentukan insentif, sistem perlindungan (guardrails), serta lembaga pengatur yang mampu mengarahkan AI untuk melengkapi kemampuan manusia.
Tokoh berpengaruh yang menandatangani surat ini di antaranya profesor MIT Daron Acemoglu dan Simon Johnson, ekonom NYU Michael Spence, serta mantan CEO Google, Eric Schmidt. Selain itu, terdapat praktisi industri seperti CFO OpenAI Sarah Friar dan pendiri Anthropic, Jack Clark.
Meski melibatkan banyak tokoh besar, surat tersebut tidak menawarkan solusi teknis yang konkret. Gerakan ini difokuskan sebagai kampanye untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap skala tantangan global yang akan dihadapi.
Dokumen ini dinilai istimewa karena menyatukan kelompok dengan pandangan kontradiktif, mulai dari pihak yang optimistis hingga kalangan skeptis terhadap dampak AI. Keberagaman latar belakang intelektual ini mencerminkan pergeseran pandangan yang tajam di kalangan akademisi.
Ekonom Stanford, Erik Brynjolfsson, yang turut mengoordinasikan surat tersebut, mengakui adanya perubahan perspektif di dunia akademik. Meski begitu, ia tetap menyatakan kekhawatiran akan ketidaksiapan dunia dalam menghadapi “tsunami” perubahan teknologi yang akan datang.