Tingkatkan Privasi Komunikasi, WhatsApp Luncurkan Fitur Username Baru bagi Pengguna

WhatsApp luncurkan fitur username baru yang memicu kekhawatiran keamanan, Samsung bersiap rilis ponsel lipat inovatif, serta Google integrasikan teknologi AI untuk mempermudah ekosistem belanja daring di platform YouTube.

Photo by Andrey Matveev on Pexels

Digitnesia.com, Jakarta – Fitur username terbaru yang diluncurkan WhatsApp memicu kekhawatiran baru terkait keamanan siber. Meski diklaim meningkatkan privasi, fitur ini dinilai berpotensi menjadi celah bagi aksi penipuan online dan phishing.

Meta kini membuka sistem pemesanan username unik bagi sekitar 3 miliar penggunanya. Langkah ini menandai pergeseran besar bagi WhatsApp yang sejak 2009 selalu bergantung pada nomor telepon sebagai identitas utama.

Perusahaan menyatakan fitur ini bertujuan memudahkan figur publik dan merek menjaga konsistensi identitas. Pengguna nantinya tidak perlu lagi membagikan nomor telepon pribadi untuk berkomunikasi.

Kendati username mulai diterapkan, nomor telepon tetap menjadi syarat wajib untuk mengoperasikan aplikasi tersebut.

Di sisi lain, Samsung dijadwalkan memperkenalkan inovasi terbarunya melalui ajang Galaxy Unpacked di London, Inggris, pada 22 Juli 2026. Perusahaan telah merilis teaser bertajuk “A New Shape Unfolds” yang diduga kuat menjadi ajang peluncuran Galaxy Z Fold8 dan Galaxy Z Flip8.

Pengamat teknologi berspekulasi Samsung akan membawa perubahan desain radikal pada perangkat tersebut. Layar lipat generasi terbaru ini dirumorkan tampil lebih lebar dan inovatif dibandingkan seri pendahulunya.

Samsung juga dikabarkan tidak hanya akan merilis ponsel lipat. Mereka menyiapkan ekosistem perangkat premium terbaru untuk diperkenalkan secara bersamaan.

Sementara itu, Google resmi meluncurkan alat iklan baru di YouTube guna merespons lonjakan video commerce yang naik hingga lima kali lipat. Solusi ini mengintegrasikan penelusuran berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan ekosistem YouTube untuk memperlancar proses transaksi.

Vice President Google, Sapna Chadha, menjelaskan bahwa AI kini mengubah pola belanja dan pengambilan keputusan masyarakat di Asia Tenggara. Data internal menunjukkan 80 persen pengguna merasa lebih percaya diri berbelanja berkat bantuan fitur AI.

“Kami memperkuat perubahan ini di Google Search sembari mempercepat kekuatan kreator YouTube untuk bermitra dengan bisnis,” ujar Sapna dalam sesi media briefing.

Ia menegaskan, ekosistem Google mampu menjembatani niat pembeli dengan pengalaman belanja yang lebih terpercaya. Integrasi ini dirancang untuk memenuhi berbagai tujuan bisnis, mulai dari membangun hubungan dengan kreator hingga mendorong checkout langsung.

Rekomendasi